Sabtu, 25 November 2023

Buah Manis di Balik Penolakan Pahit

Nama lengkap saya Izzata Sabbahana Falikulisbah, biasa dipanggil Izza atau lebih akrabnya Ijat. Saya lahir di kota yang kata orang “ngangenin", Kota Malang namanya. tepatnya pada tanggal 8 Mei 2005. Sejak kecil, saya tinggal bersama dengan kakek. nenek, dan satu adik perempuan. Orang tua saya sudah tak lagi bersama sejak saya umur 3 tahun, dan kemudian mama saya merantau ke Kota Nganjuk untuk bekerja sebagai guru dan menghidupi saya dan adik saya sendirian. Intinya sejak dulu saya jarang mempunyai momen spesial dengan orang tua. Namun bagi caya, momen dengan kakek nenek juga tak kalah sperial bahkan itu bisa dibilang istimewa.

Saya menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Malang salah satu SMA negeri favorit di Kota Malang. Letaknya tepat di depan Balai Kota Malang Saya menjalani 1.5 tahun masa SMA Secara daring dan sisanya luring. Keadaan pandemi mengharuskan saya belajar lebih keras demi bisa memahami materi dengan jam sekolah yang kurang dan biasanya. Pada saat daring jam sekolah dimulai pukul 07.00 WIB sampai paling lambat 13.00 WIB. Karena materi yang diberikan guru cukup singkat, akhirnya saya belajar lagi setelah daring sampai semua materi dan tugas di hari tersebut saya tuntaskan. Tidak hanya itu, saya juga aktif di beberapa ekstrakurikuler contohnya paduan suara, olimpiade informatika dan karya ilmiah remaja. Saya sempat menjabat sebagai ketua umum paduan suara masa jabatan 2021-2022. Saya pernah menjuarai berbagai perlombaan. Contohnya olimpiade matematika, olimpiade cerdas cermat keuangan, dan debat agama Islam.

Perjuangan saya untuk mengejar akademik dan nonakademik sejak kelas 10 SMA, membawa saya mendapatkan peringkat satu di jurusan MIPA selama enam semester berturut-turut dan mendapatkan peringkat dua pada bidang nonakademik. Memang dari awal masuk SMA, saya sudah menargetkan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai universitas yang akan saya daftarkan nantinya terutama di Fakultas Teknologi Industri (FTI). Tetapi takdır berkata lain. Semua usaha yang saya kerahkan sejak awal SMA tidak membawa saya lolos ITB melalui Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dengan KIP Kuliah. Memang pada saat itu banyak hal yang saya khawatirkan apakah mama sanggup membayar vang kuliah saya jika saya kuliah di luar kota? Bagaimana dengan vang sekolah adik saya? Kulah kenapa saya berusaha sekuat tenaga untuk bisa berkuliah tanpa membebankan mama saya.

Kabar tidak lolosnya saya di jalur SNBP membuat satu sekolah gempar. Mulai dari guru-guru teman-teman, bahkan teman dari sekolah lain pun tahu kabar tersebut. Saya sempat stres berat, saya pikir usaha saya selama tiga tahun di SMA akan terbalaskan. Bayangkan saja, semua teman dekat saya lolos SNBP, tersisa saya yang harus berjuang sendirian di jalur SNBT. Tekanan dari orang-orang sekitar, guru-guru, dan keluarga membuat saya semakin rendah diri. Tetapi untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama, sampai akhirnya saya bangkit untuk belajar UTBK yang tinggal tersisa 40 hari lagi.

Saya belajar mati-matian demi UTBK dengan bermodal YouTube dan kursus online, demi masuk Institut Teknologi Bandung. Tidak hanya mengandalkan UTBK, saya juga mendaftar beberapa peruntungan lain selama menunggu hari-H UTBK di antaranya seleksi beasiswa ITS, Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM) UGM, dan LNG Academy. Sebelumnya, saya tidak tahu menahu mengenai LNG Academy. Tetapi beberapa hari setelah tidak lolosnya saya di SNBP, salah satu teman saya mengirimkan video motivasi dari Tik Tok @arroyanpramm. Beliau bercerita bahwa tidak diterima di semua PTN yang didaftarkan, dan pada akhirnya diterima beasiswa di LNG Academy. Saat setelah mendapatkan informasi tentang LNG Academy, saya langsung mencoba daftar. Namun, LNG Academy memang bukan target pertama saya karena saya masih terobsesi dengan FTI ITB.

Pengumuman seleksi beasiswa ITS adalah pengumuman yang paling awal. Saya tidak lolos. Saya tidak berharap banyak karena apabila diterima, masih diharuskan membayar uang pangkal dan UKT yang tinggi. Hari demi hari terlewati dan sampai pada akhirnya hari UTBK datang. Anehnya, saya sakit di malam sebelum hari UTBK. Saya paksa untuk tidur, minum obat, dan berdoa sebanyak-banyaknya karena saya tahu UTBK adalah kesempatan terakhir saya untuk bisa berkuliah tanpa melewati jalur mandiri yang membayar uang pangkal.

Singkat cerita, saya selesai mengerjakan UTBK dengan sebaik-baiknya dan mengerahkan segala yang telah saya persiapkan sebelumnya. Sekitar satu minggu setelah UTBK, PBUTM UGM diumumkan. Lagi-lagi saya tidak diterima. Saya mencoba mendaftar kesempatan lain sembari menunggu pengumuman UTBK yang lebih dari satu bulan lamanya setelah saya ujian. Saya mendaftar seleksi prestasi ITS dengan harapan besar untuk diterima, sebagai cadangan jikalau kemungkinan terburuk terjadi nantinya. Seleksi LNG Academy juga mulai berjalan pada saat itu dari seleksi berkas tes potensi akademik (TPA), sampai tes psikotes saya lewati dengan lancar.

Entah karena apa, situasi semakin buruk menjelang pengumuman UTBK. Kakek saya dirawat di rumah sakit pada akhir bulan Mei 2023 selama satu minggu. Pertengahan Juni 2023, beliau kembali dirawat di rumah sakit bahkan lebih lama dari sebelumnya. Saya sempat menginap di rumah sakit beberapa kali untuk menemani kakek. Tak lupa saya terus-menerus berdoa kepada Allah SWT agar diberikan hasil yang terbaik di SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes). Namun, kakek saya lebih mendukung saya masuk LNG Academy, sudah terjamin semua kata beliau. Tetapi, saya tetap bertahan pada tujuan awal saya untuk masuk Institut Teknologi Bandung lewat jalur SNBT. Tidak terpikirkan dalam diri saya untuk bisa diterima di LNG Academy karena hanya 20 orang saja yang diterima pada beasiswa kerjasama antara Politeknik Negeri Jakarta dan PT Badak NGL.

Beberapa hari kemudian jadwal seleksi wawancara sekaligus lokasinya diumumkan. Saya mendapatkan jadwal wawancara LNG Academy pada tanggal 21 Juni 2023 di Hotel Grand Ambarrukmo Yogyakarta. 20 Juni 2023, saya berangkat ke Kota Yogyakarta sendirian untuk mengikuti seleksi wawancara offline dengan transportasi kereta. Saya tidak langsung mengambil kereta api dari Kota Malang ke Yogyakarta karena harga tiketnya yang mahal. Saya membeli tiket kereta api lokal dahulu, dari stasiun Blimbing Malang menuju stasiun Kertosono, sekaligus singgah sebentar di Kertosono untuk menemui mama saya. Kebetulan. Pada tanggal 20 Juni 2023 Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) diumumkan pukul 15.00 WIB. Saya berencana untuk membuka pengumuman di Kertosono bersama dengan mama, dengan harapan saya bisa lolos, dan bisa menjalankan seleksi wawancara keesokan harinya dengan suasana hati yang baik.

Kereta berangkat dari stasiun Blimbing Malang pukul 07.15 WIB dan perkiraan sampai di Kertosono pada pukul 13.00 WIB. Sedangkan kereta dari Kertosono menuju stasiun Lempuyangan Yogyakarta berangkat pada pukul 16.00 WIB dan sampai Yogyakarta sekitar pukul 20-13 WIB. Saya berusaha menenangkan diri dan tetap berpikir positif selama perjalanan di kereta api. Sesampai di kertosono, saya dijemput mama dan istirahat sejenak di rumah teman beliau. Saya sangat gelisah menjelang detik-detik pengumuman. Takut, cemas, semuanya campur aduk jadi satu. Pikiran-pikiran buruk tak henti-hentinya mampir di kepala. Tepat jam 15.00 WIB, saya tidak langsung membuka pengumuman, tapi saya berkeliling sejenak di sekitar rumah teman mama untuk menjernihkan pikiran. Selepas 10 menit berkeliling, saya memberanikan diri untuk membuka pengumuman. Saya berusaha ikhlas apapun itu hasilnya karena Tuhan lebih tahu yang terbaik.

Ketika saya membuka laman pengumuman, ternyata laman tersebut masih eror. Saya mencoba buka pada laman alternatif lain yang dilampirkan. Deg, jantung saya seperti berhenti sejenak. Kalimat yang muncul hanyalah semangat. Pandangan seketika buram. Saya langsung berpikir apakah saya bisa kuliah tahun ini? Bagaimana saya mengabarkan kepada keluarga, teman-teman, dan guru-guru? Apa saya gagal? Saya berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis. Pada saat saya membuka ponsel sudah banjir notifikasi pesan. “Gimana Jat? Lolos kan? “Selamat Jatt, aku tahu kamu pasti lolos.” Tanpa berpikir panjang, saya segera mematikan ponsel. “Ma aku gimana?” itu kalimat pertama yang saya ka- takan kepada mama saat itu. Mama saya menjawab, "Kak masih ada kesempatan satu kali lagi besok. Jangan nangis, nanti matamu bengkak." Saya langsung berusaha mengalihkan topik agar bisa segera berangkat ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Saya diantar mama menuju stasiun, sengaja memberangkatkan diri lebih awal untuk tetap fokus demi kelancaran wawancara esok hari.

Kereta api yang membawa saya dari Kertosono menuju Yogyakarta bernama Sri TanJung. Pertama kalinya saya naik kereta antar kota dengan suarana hati yang berantakan, padahal pemandangan dan suasana keretanya sangat menyenangkan. Untuk kesekian kalinya ditolak, saya masih cengeng. Air mata kerap turun sembari saya melihat keluar jendela kereta. Sempat menghubungi kakek dan nenek di Malang, saya mendengar nada kekecewaan dalam setiap kalimat yang diutarakan. Untungnya, masih ada setitik semangat dalam diri saya, saya harus lolos wawancara besok.

Sesampai di Yogyakarta, saya dijemput kakak sepupu yang sedang menempuh jenjang kuliah disana. Saya diajak mengitari Kota Yogyakarta di malam hari dan makan lalapan di pinggir jalan. Dia sempat bertanya. "Za aku lihat-lihat dari tadi ketawa-ketawa aja, kamu beneran ga lolos UTBK?" Pencitraan saya memang semakin baik sejak ditolak berbagal PTN. Saya menginap di kos kakak sepupu saya yang kebetulan dekat dengan Hotel Grand Ambarrukmo. Bersyukur juga karena dia sudah libur kuliah dan bisa mengantar saya saat wawancara besok.

Saya hanya mempersiapkan wawancara dalam semalam, dilanjut keesokan paginya. Wawancara saya dimulai pukul 13.30 WIB. Ketika menunggu di depan ruangan wawancara, saya bertemu dengan Handy dan bercakap-cakap singkat tentang hasil UTBK dan persiapan wawancara. Hari itu, saya menyelesaikan wawancara dengan sangat baik dan mengharapkan hasil yang terbaik. Esoknya, saya bersama kakak sepupu saya kembali ke Malang menaiki kereta api pagi. Perjalanan kembali ke Malang membuat saya sedikit lega karena tahapan yang paling menegangkan yaitu wawancara, telah usai.

Sembari menunggu pengumuman wawancara saya mendaftarkan diri di beberapa jalur mandiri, di antaranya seleksi mandiri ITB, seleksi mandiri IPB, dan seleksi mandıri UB. Berjarak lima hari setelah wawancara, seleksi prestasi ITS akhirnya diumumkan. Bisa ditebak, saya tidak lolos lagi. Singkat cerita, saya tidak lolos seleksi mandiri ITB dan seleksi mandiri IPB dan hanya diterima di UB Jurusan Teknik Mesin. Kesempatan itu tidak saya ambil karena biaya dan teknik mesin sebenarnya adalah pilihan kedua saya.

Pengumuman akhir LNG Academy adalah tanggal 31 Juli 2023. Saya akhirnya diterima setelah penantian yang begitu lama. Saya berharap dengan masuknya saya di LNG Academy, saya mampu meringankan beban orang tua dan menggali potensi saya lebih dalam. Semoga LNG Academy dapat membuka banyak kesempatan emas bagi saya di masa depan.

Buah Manis di Balik Penolakan Pahit

Nama lengkap saya Izzata Sabbahana Falikulisbah, biasa dipanggil Izza atau lebih akrabnya Ijat. Saya lahir di kota yang kata orang “ngangeni...